Vatreni Menghadapi Tugas Sulit Di Babak Knockout
Kisah Piala Dunia Kroasia akan berlanjut melampaui babak grup, setelah kemenangan 2-1 Vatreni atas Ghana pada hari Sabtu, dan sejauh ini merupakan penampilan terbaik tim asuhan Zlatko Dalić di Amerika Utara sejauh ini.
Namun, dengan finis kedua di grup mereka, Kroasia secara tidak sengaja mendapati diri mereka berada di bagian yang jauh lebih sulit di turnamen Piala Dunia dibandingkan jika mereka bermain imbang melawan Ghana dan finis ketiga.
Jalur Piala Dunia Kroasia: Lawan yang Tampaknya Mustahil Yang Harus Dikalahkan Vatreni Untuk Menantang Kejayaan Piala Dunia
Kroasia adalah satu-satunya tim selain Prancis yang memegang kehormatan tersendiri dengan meraih medali di dua Piala Dunia terakhir.
Namun, dengan keberhasilan tersebut, muncul peningkatan ekspektasi, dengan banyak orang berharap untuk kembali naik podium tahun ini, setelah Piala Dunia Kroasia bertahun-tahun berlalu.
Meski begitu, tidak seperti tahun 2018 dan 2022, jalur tim untuk mencapai kemajuan seperti itu tampaknya mustahil.
Mereka menghadapi Portugal di babak 32 besar, yang sepertinya merupakan tugas yang tidak dapat diatasi, mengingat kualitas hebat dari tim asuhan Roberto Martinez.
Satu-satunya hal yang mungkin menjadi alasan untuk merasa optimis adalah kenyataan bahwa Portugal juga belum terlalu bagus sejauh ini di turnamen ini.
Bahkan jika Vatreni mampu mengatasi kekalahan melawan Portugal, raksasa lain dari Semenanjung Iberia kemungkinan akan menunggu di babak 16 besar, karena Kroasia harus menghadapi pemenang pertemuan Spanyol vs Austria.
Piala Dunia Kroasia: Berpotensi Menghadapi Dua Tim ‘Bogey’
Spanyol, seperti halnya Portugis, telah menjadi tim momok mutlak bagi Kroasia, selama beberapa dekade sejak keberadaan tim nasional Kroasia.
Dari total 10 laga internasional, Kroasia hanya berhasil mengalahkan Portugal satu kali, yaitu pada laga persahabatan tahun 2024.
Sejarah Vatreni melawan Spanyol tidak jauh lebih baik, dengan hanya tiga kemenangan dari 11 pertemuan mereka.
Karena perluasan turnamen menjadi 48 tim tahun ini, peluang tim-tim teratas untuk bertemu di awal babak sistem gugur semakin besar.
Jadi, impian Piala Dunia Kroasia kemungkinan besar bergantung pada tim yang bisa mengalahkan dua raksasa sepakbola tersebut, hanya untuk mencapai perempat final. Memang benar, Spanyol belum bisa mengalahkan Austria, namun kemungkinan besar mereka akan melakukannya.
ANDA MUNGKIN JUGA SUKA: Bentuk Cristiano Ronaldo: Bagaimana Ikon Portugal Dapat Mendorong Sisinya Maju?
Piala Dunia Kroasia: Bisakah Impian Piala Dunia Tetap Hidup?
Tentu saja, Kroasia telah membuktikan diri mereka di turnamen sepak bola Piala Dunia di bawah asuhan Dalić, karena pelatih kepala Kroasia dan stafnya cenderung mengeluarkan yang terbaik dari para pemainnya selama pertandingan sistem gugur ini.
Mereka sering melakukannya dengan mengorbankan gaya positif dan menyerang yang seharusnya dimainkan oleh grup ini, tapi itu tidak menjadi masalah ketika mereka mampu meraih kemenangan dan mencapai tahap akhir turnamen besar.
Meski begitu, kemenangan melawan negara-negara sepak bola besar juga jarang terjadi di bawah kepemimpinan Dalić. Namun ketika tekanan terus berlanjut, Kroasia sudah mampu tampil baik, seperti semifinal melawan Inggris pada 2018, atau perempat final melawan Brasil pada 2022.
Artinya, kisah Piala Dunia Kroasia bisa saja berlanjut hingga babak 16 besar dan mungkin lebih jauh lagi, namun pada saat ini, hal tersebut sepertinya tidak masuk akal.
Piala Dunia 2026
Kalau biasanya Piala Dunia itu sudah terasa besar, edisi 2026 bakal terasa seperti “festival sepak bola global” versi maksimal. Untuk pertama kalinya, turnamen ini digelar bareng oleh tiga negara sekaligus—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—yang artinya vibes-nya bakal campur aduk antara budaya, stadion, dan gaya dukungan fans yang beda-beda. Bukan cuma soal lokasi, formatnya juga naik level: dari 32 jadi 48 tim. Kebayang nggak, lebih banyak negara ikut, lebih banyak cerita underdog, dan peluang kejutan makin gede. Bisa jadi tim-tim yang biasanya cuma numpang lewat, kali ini malah bikin sejarah. Di sisi lain, jadwal yang makin panjang bikin turnamen ini terasa seperti maraton emosi—dari fase grup yang padat sampai knockout yang makin brutal. Dan karena ini Piala Dunia FIFA 2026, ekspektasinya jelas: gol dramatis, momen ikonik, dan pemain-pemain muda yang tiba-tiba jadi bintang dunia dalam semalam. Intinya, 2026 bukan cuma tentang siapa yang angkat trofi, tapi tentang pengalaman global yang lebih luas—lebih ramai, lebih chaotic, tapi justru itu yang bikin seru.

